Lakpesdam peduli syistem


MONITORING PELAYANAN PUBLIK, MONITORING PENGGUNAAN APBD

Untuk melengkapi bekal pemahaman dan keterampilan para aktivis muda NU di bidang Advokasi APBD, PP Lakpesdam NU yang bekerja sama dengan PW Lakpesdam NU Jawa Timur menyelenggarakan Halaqah APBD (Sekolah Anggaran) Daurah Keempat, di Hotel Utami Surabaya pada tanggal 6 – 8 Juli 2010 lalu. Halaqah yang dibuka oleh Prof. DR. Mas’ud Sa’id, ketua PP Lakpesdam NU, itu diikuti 31 orang yang terdiri tim program Advokasi APBD Pro Poor dari Jakarta, Kota Surabaya, Kabupaten Cilacap, dan Provinsi Jawa Timur, perwakilan alumni Halaqah APBD Daurah 1 – 3, mitra dan jaringan lakpesdam, serta perwakilan Dinas Kesehatan dari Kota Surabaya dan Kabupaten Cilacap.

Tampil sebagai narasumber dalam halaqah yang secara khusus mengangkat topik Citizen Report Card (Kartu Penilaian Warga) sebagai salah satu media advokasi anggaran antara lain Yahya Ma’shum (Ketua PP Lakpesdam NU), K.H. Abdurrahman Nafis, Lc. (Syuriyah PWNU Jawa Timur), Muntajid Billah (PP Lakpesdam NU), dan Syamsudin (Kopel Makassar). Adapun materi-materi yang mengelaborasi metodologi ilmiah CRC difasilitasi oleh Ahmad Nyarwi (Fisipol UGM). Turut hadir dalam pembukaan dan beberapa sesi setelahnya, Hari Kusdaryanto, dari The Asia Foundation.

Kiai Abdurrahman Nafis yang menjadi narasumber sesi diskusi panel pertama menyampaikan topik “Pelayanan Publik dalam Perspektif Agama” bersama Yahya Ma’shum yang mengulas “Potret Pelayanan Kesehatan di Indonesia”. Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, kata Kiai Abdurrahman, idealnya setiap instansi pemerintah menerapkan sifat kenabian, yakni shiddiq (jujur, tulus), amanah (terpercaya, akuntabel), tabligh (transparan) dan fathanah (cerdas, inovatif). Sementara Yahya, setelah memaparkan beberapa data dan temuan, mengatakan, “Sebagian besar layanan kesehatan di negeri ini belum memenuhi hak dasar pasien.”

Sesi berikutnya yang digelar keesokan paginya menghadirkan dr. Sri Setiyani dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya dan Farid Riyanto, SKM, MSi yang mewakili Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap. Secara bergantian keduanya memberikan gambaran umum seputar pelayanan kesehatan di daerah masing-masing berikut isu-isu krusial yang diharapkan bisa menjadi bahan pertimbangan peserta dalam menentukan fokus CRC. Kota Surabaya dan Kabupaten Cilacap, yang menjadi daerah program advokasi APBD Lakpesdam sejak tahun lalu, memang direncanakan akan menjadi lokasi penyelenggaraan CRC.

Usai sharing dengan penyedia (provider) layanan kesehatan, sesi dilanjutkan oleh Muntajid Billah yang memberikan gambaran makro pelaksanaan CRC dan posisi strategisnya di ranah advokasi anggaran. “CRC adalah penilaian rakyat atas layanan publik di suatu wilayah, gagasan utamanya adalah advokasi rakyat. Sehingga diharapkan dilaksanakan secara swadaya dan dengan semangat volunterisme. Bisa juga dengan menggandeng legislatif sebagai institusi yang mempunyai fungsi pengawasan kinerja pemerintah dan penggunaan anggaran daerah,” papar Muntajid.

Sementara Ahmad Nyarwi yang memfasilitasi materi-materi metodologi ilmiah CRC memberikan banyak gambaran dari pelaksanaan sebuah survei ilmiah. Selain beberapa aspek ilmiahnya yang cukup rumit, Nyarwi yang juga pernah bekerja untuk Lembaga Survey Indonesia (LSI) itu juga banyak menceritakan pengalamannya melakukan beberapa survey, serta beberapa hal yang sangat perlu diperhatikan agar tidak menjadi sandungan. “Cara memandang data sangat penting. Karena bisa jadi data yang benar menghasilkan kebijakan yang salah karena cara memandangnya yang tidak pas,” katanya.

Dan untuk melengkapi gambaran pelaksanan sebuah CRC, peserta diajak mendengarkan sharing pelaksananan CRC di beberapa kota di Sulawesi Selatan. Narasumber, Syamsudin dari Kopel Makassar yang pernah terlibat langsung dalam pelaksanaan CRC di daerahnya, bercerita banyak tentang peluang dukungan dan hambatan yang mungkin akan ditemui peserta selama melakukan CRC, baik yang datang dari masyarakat sebagai responden maupun pemerintah.

Sebagai penutup, dipandu MS Wai dari PP Lakpesdam, seluruh peserta membuat perencanaan pelaksanaan CRC, dari yang bersifat strategis sampai teknis. Selain berdiskusi bersama peserta Kota Surabaya dan Kabupaten Cilacap yang tak lama lagi akan melakukan CRC di bidang kesehatan, sebagian peserta lain membentuk kelompok sendiri untuk berlatih membuat perencanan CRC di bidang pendidikan. (-,AIS)

Dimuat 30/07/2010 oleh Iftah Shiddiq sumber :http://www.lakpesdam.or.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s