HOME 2


lakpesdam animasi

LAKPESDAM BANJARNEGARA

tambahan wacana…

Poligami, Berkah atau Musibah?

Rabu, 17/03/2010 15:49 WIB | email | print | share

Isu poligami selalu memicu reaksi keras dan menjadi isu meresahkan terutama di kalangan perempuan. Padahal diantara kita masih banyak yang bingung ketika dimintai tanggapan tentang gagasan poligami. Sebagian besar orang masih memandang keluarga poligami dengan stigma negatif, meski keluarga poligami itu adalah contoh keluarga poligami yang baik.

Keluarga dari perkawinan poligami sampai detik ini masih identik dengan stereotipe bahwa keluarga semacam itu tidak akan bisa hidup rukun, miskin dan tidak berpendidikan.

Mereka yang mendukung poligami bakal dicap sebagai orang yang mau enak sendiri, tidak berpendidikan, tidak beradab sehingga muncul keprihatinan bahwa kemungkinan ada pemahaman yang kurang benar dari kalangan yang pro dan kontra terhadap isu yang sensitif ini.

Akibatnya, banyak orang yang merasakan sangat sulit untuk mengakui dukungan mereka terhadap poligami atau bahkan mengakui keinginan mereka untuk memiliki isteri lagi dengan niat yang baik, karena takut dicap dengan label-label yang buruk.

Poligami seharusnya tidak menjadi momok yang menakutkan jika ada perencanaan yang konsisten dan sikap tegas untuk menolak kekuatan-kekuatan dari luar yang membawa pengaruh negatif pada kehidupan keluarga. Situasinya akan lebih baik jika tetap berpegang teguh dan mengikuti agenda yang stabil yang akan membawa jiwa dari dua individu terkait secara utuh.

Ada baiknya, kita tidak kehilangan arah untuk mengindetifikasi berbagai persoalan yang mungkin timbul akibat poligamim dan bahwa ada legalitas keagamaan untuk melakukan poligami dan di sisi lain ada kalangan lelaki yang sengaja menyalahgunakan hak yang diberikan ini. Beberapa persoalan yang mungkin timbul dalam kehidupan poligami;

-Ketidakpercayaan salah seorang isteri yang meyakini bahwa cinta tidak bisa dibagi-bagi.

-Rasa cemburu di antara para isteri yang kadang-kadang memicu munculnya sikap negatif terhadap anak-anak mereka.

-Kepala keluarga yang ingin poligami tapi ceroboh, tidak punya komitmen dan tanggung jawab yang kuat untuk mempertahankan keluarganya.

-Pengaruh dari luar, seperti teman dan penasehat yang berpihak akan makin memicu kesalahpahaman dalam keluarga.

Jika manusia bersikap realistis, hidup adalah serangkaian kejadian yang penuh pasang surut tapi selalu ada solusi jika terjadi tekanan-tekanan. Bagi mereka yang memilih hidup berpoligami, butuh perjuangan keras untuk membuat hidup mereka jadi mudah dan ujian kehidupan selayaknya dipandang sebagai sebuah tanggung jawab yang sangat penting.

Dengan demikian, seharusnya tidak ada alasan untuk selalu memandang negatif ide poligami. Bahkan jika kehidupan poligami itu tidak sejahtera. Karena tidak ada indikasi akurat untuk sebuah perkawinan yang sukses dan lebih jauh lagi untuk masalah keluarga yang baik-baik.

Di luar sana, banyak perkawinan tunggal yang juga bisa gagal, karena salah satu pasangan berkhianat atau akibat persoalan yang lebih serius lagi, seperti bersikap tidak jujur yang bisa menimbulkan penderitaan panjang.

Tidak adil jika mengutuk poligami tanpa terlebih dulu menilai ada apa dibalik poligami itu. Sebaliknya, mereka yang ingin berpoligami harus berpikir lebih bijak sehingga tidak merusak citra poligami dan menjadi contoh yang buruk kehidupan keluarga poligami. (ln/iol).dr eramuslim.com

Cemburu Yang Professional

Senin, 15/03/2010 10:07 WIB | email | print | share

Dari Abu Hurairah, Aisyah berkata : “Aku tidak pernah merasa cemburu kepada seorang wanita sebesar rasa cemburuku pada Khadijah. Aku tidak pernah melihatnya, tetapi Rasulullah sering menyebut dan mengingatnya”. Ketika menyembelih seekor kambing, beliau selalu memotong sebagian dagingnya dan menghadiahkannya kepada sahabat-sahabat Khadijah. Aku pernah berkata kepada Rasulullah, ‘Seperti tidak ada wanita lain di dunia ini selain Khadijah’. Rasulullah menjawab, ‘Khadijah itu begini dan begitu, dan dari dialah aku memperoleh anak.’” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Baghawi)

Subhanalloh, begitu detail Aisyah, istri rasululloh yang jelita menceritakan rasa cemburunya. Dan itu diungkapkannya kepada semua orang yang berniat mendengarkan kisah tauladan dan perasaan yang dialami Aisyah.

Bagaimana bisa seorang wanita menceritakan rasa cemburunya, kejadian demi kejadian yang secara jujur pasti menyakitkan dan membuat hati serasa teriris pisau. Namun Aisyah dengan cara yang sangat professional ternyata mampu mengatasi itu semua serta menceritakan semua kejadian dan perasaan yang dialaminya untuk dijadikan ibrah atau pelajaran bagi siapa saja yang mendengarkan bahkan sampai beratus tahun kemudian.

Aisyah akan terus bercerita tentang kisah hidup rumah tangganya berulang kali sampai sekarang, seakan-akan apa yang dialami oleh beliau baru beberapa hari yang lalu terjadi. Sehingga kitapun seakan hadir pada waktu peristiwa itu terjadi. Subhanalloh demikian indah beliau menggambarkan perasaannya yang secara fitrah pasti tidak enak, karena sikap profesionalnya yang dilandasi keimanan yang tinggi.

Ya, Aisyah demikian profesional dalam menjalankan tanggung jawab sebagai istri terdekat rasul yang meriwayatkan berbagai hadist, untuk dijadikan hikmah bagi umat. Aisyah mampu mengelola rasa cemburunya sehingga rasa cemburu itu dikemas dengan indah sehingga menjadi cemburu yang profesional.

Sanggupkah kita memiliki cemburu yang profesional?, yaitu cemburu namun tetap professional, tidak menyakiti diri sendiri, tidak kekanak-kanakan atau mencelakan orang lain dan atau marah marah tidak karuan, uring uringan berbulan bulan, cemberut serta negative thinking ketika cemburu menyerang kita.

Mampukah kita mengelola rasa cemburu agar menjadi cemburu yang profesional, misalnya ketika kita mengalami cemburu yang sangat dahsyat disaat suami kita berpoligami atas dasar agama, memperluas dakwah dan menolong si papa. Kita tetap tabah dan sabar dan tetap beribadah serta melakukan tugas sebagai istri dengan ikhlas secara profesional sehingga cemburu tidak mengganggu kerja dan ibadah kita. Selain itu cemburu juga harus tetap profesional bila suami kita diharuskan untuk berdakwah kemana-mana dan hanya menyisakan waktu sedikit saja untuk kita.

Ada pepatah yang mengatakan bukan berbagi suami, tapi memang tidak kebagian suami, karena waktunya habis untuk yang lain selain kita yaitu istri yang lain, dakwah, kerjaan dan lain sebagainya.

Ternyata hanya keimanan yang tinggilah yang mampu membuat kita memiliki kepandaian untuk mengelola rasa cemburu sehingga menjadi cemburu yang profesional. Hidup bunda Aisyah, darimulah aku terinspirasi untuk memiliki cemburu yang professional. Walau cemburu, tetap melakukan tugas dan tanggung jawab dengan baik tanpa terganggu oleh rasa cemburu itu..era muslim.com

…………………………………………………………………………………….

Tafsir

faktor-faktor kesuksesan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (45) وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (46)

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (QS. 8: 45-46)
Sabar adalah sifat yang harus dimiliki untuk memasuki pertempuran, pertempuran apapun, baik di medan mental atau di medan perang.
“Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (46)
Ma’iyah (kesertaan) Allah inilah yang menjadi penjamin kemenangan, kesuksesan dan keberuntungan bagi orang-orang yang sabar..
Kini tinggal ajaran terakhir:
“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (47)
Ajaran terakhir ini berfungsi untuk menjaga kelompok mukmin dari sifat angkuh saat berangkat perang, sewenang-wenang, takjub dengan kekuatannya sendiri, serta dari menggunakan nikmat kekuatan yang diberikan Allah secara tidak sesuai dengan kehendak Allah. Sesungguhnya kelompok mukmin berangkat berperang di jalan Allah untuk meneguhkan uluhiyah Allah dalam kehidupan manusia, dan menetapkan ‘ubudiyah para hamba kepada Allah semata. Kelompok mukmin berperang untuk menghancurkan para thaghut yang mencuri hak Allah dengan memperbudak hamba-hamba-Nya, yang mempraktikkan uluhiyah di muka bumi dengan menjalankan hakimiyah (otoritas legislasi) tanpa izin dan aturan dari Allah. Mereka keluar untuk mendeklarasikan kemerdekaan manusia di muka bumi dari setiap penghambaan kepada selain Allah, yang melecehkan kemanusiaan dan kehormatan manusia. Mereka keluar untuk melindungi kehormatan, kemuliaan, dan kemerdekaan manusia, bukan untuk menguasai manusia, memperbudak mereka, dan congkak dengan nikmat kekuatan dengan menggunakannya secara negatif. Mereka kelompok yang berangkat berperang bukan untuk mengejar kepentingan pribadi, sehingga kemenangan yang mereka capai semata-mata untuk merealisasikan taat kepada Allah dengan memenuhi perintah-Nya untuk berjihad, menegakkan manhaj-Nya dalam kehidupan, meninggikan kalimat-Nya di muka bumi, dan mencari karunia dan ridha-Nya sesudah itu. Kalau ada harta pampasan sesudah perang, maka itu merupakan karunia Allah.


Gambaran keberangkatan pasukan dengan sikap angkuh, riya’ kepada manusia, dan untuk menghalangi manusia dari jalan Allah itu terbayang di pelupuk mata kelompok Muslim. Mereka pernah melihatnya saat kaum Quraisy berangkat berperang. Sebagaimana gambaran tentang akibat sikap tersebut juga terlihat pada apa yang telah menimpa orang-orang Quraisy yang keluar pada hari itu dengan bangga dan sombong untuk menantang Allah dan Rasul-Nya. Di akhir babak, mereka kembali dengan membawa kehinaan, kegagalan, dan kekalahan. Allah swt mengingatkan kelompok Muslim dengan sesuatu yang faktual, yang memiliki kesan dan inspirasinya tersendiri:
“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.”(47)
Sikap angkuh, riya’, dan menghalangi manusia dari jalan Allah, seluruhnya jelas terlihat pada ucapan Abu Jahal. Delegasi Abu sufyan menemui Abu Jahal—setelah Abu Sufyan berhasil membawa kabur kafilah dagang hingga selamat dari hadangan kaum Muslimin—untuk memintanya menarik mundur pasukan, karena mereka tidak perlu lagi memerangi Muhammad dan para sahabatnya. Orang-orang Quraisy berangkat perang dengan membawa wanita-wanita penghibur dan alat musik untuk bernyanyi, dan menyembelih unta di setiap persinggahan. Lalu Abu Jahal berkata: “Tidak, demi Allah, kami tidak akan pulang sebelum tiba di Badar. Lalu kami akan tinggal di sana selama tiga hari, menyembelih binatang, makan-makan, minum khamer, dan menikmati nyanyian para wanita penghibur, hingga bangsa Arab takut kepada kami selama-selamanya.”smber….eramuslim.com
Ketika utusan itu menyampaikan jawaban Abu Jahal kepada Abu Sufyan, maka Abu sufyan berkata: “Duhai kaumku! Ini adalah perbuatan ‘Umar bin Hisyam (Abu Jahal). Ia tidak mau pulang karena ia memimpin pasukan dan berbuat sewenang-wenang, padahal kesewenang-wenangan itu pembawa kerugian dan kesengsaraan. Bila Muhammad mengalahkan pasukan itu, maka hinalah kita.”
Firasat Abu Sufyan ternyata benar. Muhammad saw berhasil mengalahkan pasukan itu, dan orang-orang musyrik menjadi hina lantaran sikap angkuh, riya’, dan menghalangi manusia dari jalan Allah. Badar menjadi tempat hancurnya kekuatan mereka:
“Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (47)
Tidak ada sesuatu dari mereka yang luput dari-Nya. Tidak ada satu pun kekuatan mereka yang membuat-Nya tidak berdaya. Dan Dia meliputi mereka dan apa yang mereka kerjakan.

One response to this post.

  1. bung lakpesdame…nduwe projek2 apo??

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s